Behavioural Flexibility

Oleh : Agus Ali

Kamis, 25 Juni 2009 15:52 WIB

 

Ambillah lima sendok makan garam, kemudian masukkan seluruhnya ke dalam sebuah gelas.  Isi gelas itu dengan air, tapi jangan sampai penuh.  Aduklah.  Setelah garam larut seluruhnya dalam air, celupkan jari telunjuk anda.  Tanpa harus menunggu lama, arahkan jari telunjuk itu ke lidah anda.  Apa rasanya?

Asin?  So pasti.

Coba ambil lima sendok makan garam, lalu masukkan ke dalam sebuah ember.  isilah ember tersebut dengan air.  Aduk sebentar sampai garamnya larut seluruhnya.  Celupkan kembali jari telunjuk anda, dan rasakan kembali.  Asinkah?  MUngkin masih asin, tidak seasin percobaan pertama.

Berikutnya, coba bawa air dalam gelas dan air dalam ember ke sebuah kolam renang.  Campurkan seluruh air itu dengan air di kolam renang.  Apa rasanya?  Tidak ada sedikitpun rasa asin, sekalipun ke dalam kolam renang dimasukkan 10 sendok makan garam yang sudah dilarutkan.

Percobaan sederhana itu menjelaskan sebuah fenomena yang dikenal sebagai kelenturan perilaku (behaviour flexibility).  Percobaan sederhana ini menjawab berbagai pertanyaan seperti ini :

1.  Mengapa ada orang yang sukarela mengakhiri hidup dengan menggantung diri ketika patah hati atau ditolak cintanya, sedangkan di sisi lain ada orang yang menerima kondisi itu dan mencoba mencari calon lain untuk pasangan hidupnya?

2.  Mengapa ada orang yang membakar pabrik bekas tempatnya bekerja karena di PHK, sementara ada orang lain yang kemudian mencari pekerjaan lain atau bahkan memulai sebuah usaha dan kemudian bisa sukses?

3. Mengapa ada kasus perkelahian atau bahkan pembunuhan gara-gara uang receh, sedangkan di sisi lain ada orang yang masih cengar-cengir ketika ditimpa kerugian milyaran rupiah?

4.  Mengapa ada orang yang langsung pingsan atau meninggal gara-gara dapat undian berhadiah seratus juta rupiah, sedangkan di sisi lain ada orang yang masih mengeluh ketika bisnisnya hanya menghasilkan keuntungan seratus juta dollar?

5.  Ada orang yang kebal kritik, tetapi di sisi lain ada orang yang sedikit tersinggung, golok bicara …

Masih banyak contoh lain.  Dan artikel ini bukan sekedar mengumpulkan contoh.

Respon manusia terhadap suatu kejadian, bukan tergantung pada jumlah ‘garam’nya, tetapi lebih pada seberapa banyak ‘air’ yang dimilikinya.  Orang-orang yang ‘air’nya sedikit, bagaikan petasan dengan sumbu pendek.  Begitu sumbunya tersulut api, langsung meledak.  Dapat cobaan sedikit saja, putus asa.  Dapat sedikit kesulitan, mengeluh.  Ada sedikit halangan, ngomel.  Sedikit tersinggung, golok bicara.  Mereka hanya punya satu pilihan.  Bakar!

Mereka yang punya ‘air’ lumayan banyak, memiliki beberapa pilihan respon.  Jika diuji dengan masalah, ia punya pilihan lain selain putus asa.  Ketika menghadapi kesulitan, ia punya pilihan lain selain mengeluh.  Ketika menghadapi halangan, ia punya pilihan lain selain ngomel.

 

Wassalam

Zaenal Abidin

http://www.zainalabidin.net/articles/2009/6/4/25200/Behavioural_Flexibility_1.htm

%d blogger menyukai ini: